10 Kebiasaan Positif Para Milyarder

​10 Kebiasaan Positip Para Milyarder Sukses
MEI 29, 2014

 OLEH HOWMONEYINDONESIA 1
Para jutawan kerap mendapat prasangka buruk, terutama dari masyarakat ekonomi lemah. Melihat pengusaha sukses seperti Bill Gates, Warren Buffet di TV atau menonton film “The Wolf of Wall Street” bisa membuat kita berpikir bahwa orang-orang kaya hidup rakus dengan mengambil keuntungan dari orang miskin. Hal tersebut bisa saja benar bagi sebagian orang, tetapi bagi banyak orang sukses lainnya, kesuksesan hanyalah sebagian dari perjalanan hidup.
Banyak hal tersembunyi yang tak kita lihat seperti hasrat, kerja keras, salah langkah, kesulitan keuangan, dan kreatifitas yang kemudian menjadi bagian hidup para orang kaya. Tentu saja tidak ada kamera atau wartawan yang meliput ketika mereka harus berpindah-pindah, hidup dalam mobil, atau jatuh sakit sebelum mencapai puncak sukses.

Berita baiknya adalah para bayi tidak terlahir dengan jutaan dollar tersedia dalam tabungan; dan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menjadi orang sukses. 
Wallace D. Wattles mengatakan: “Orang berbakat bisa menjadi kaya, orang bodoh bisa menjadi kaya, orang kuat bisa menjadi kaya, orang lemah dan sakit-sakitan bisa juga menjadi kaya.”

Semua orang bisa menjadi kaya.
Tetapi tahukah Anda kebiasaan orang kaya yang membedakan mereka dari orang-orang biasa?
Inilah 10 hal-hal yang mereka lakukan, bisa saja sangat berbeda dalam keseharian:
1. Mereka memilih berkawan dengan orang-orang yang berpikiran positip dan terbuka serta tidak membuang waktu dalam hal-hal negatif.

Sangat menarik mengetahui bahwa 67% orang kaya menonton tv tak lebih dari sejam dalam sehari dan hanya 6% saja yang menonton acara gosip.
2. Mereka berkorban di awal

Bagi orang-orang sukses tidaklah menjadi masalah bila penghasilannya menurun, mengendarai kendaraan murahan, pindah ke rumah yang lebih kecil, dan sebagainya; saat memulai usahanya. Kemudian mereka memanfaatkan hasil pemghematan itu untuk usaha, menginvestasikan atau menginvestasikannya lagi supaya uang mereka mengalir kembali. 
Terkadang mereka harus hidup hemat luar biasa. Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet tetap setia mengendarai kendaraan bututnya, sampai para pegawainya sendiri memaksanya untuk membeli mobil baru.

Baca juga: 11 Hal untuk Mempersiapkan Kesuksesan Sejak Usia 20-an.
3. Mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengeluh

Jika sesuau yang buruk terjadi, mereka merubah haluan, mengambil hikmah, atau mencoba melihat lebih jauh untuk melihat potensi-potensi keuntungan yang ada.
4. Mereka mendahulukan untuk melunasi hutang dan menabung.

Mereka sadar benar bahwa saat seseorang terikat hutang, ia tak punya pilihan lain kecuali tetap pada pekerjaan yang menyedihkan, tak bisa pindah domisili atau rumah meski hal-hal tersebut sangatlah bertentangan dengan keinginan hatinya.
5. Mereka tidak pernah menyalahkan pemerintah atau ekonomi atas situasi sulit yang mereka hadapi.

Sebaliknya, mereka bertanggung-jawab penuh atas keputusan dan tindakan mereka, serta yakin bahwa merekalah yang menentukan masa depan mereka sendiri, bukan orang lain termasuk pemerintah. Jim Rohn mengatakan bahwa ia menghasilkan sejuta dollar dalam 6 tahun, meski presiden dan partai penguasa telah berganti. Baginya, siapapun presidennya, tidak ada pengaruhnya sedikitpun.

Artikel terkait: 10 Pertanyaan untuk Membantu Menemukan Usaha yang Tepat
6. Mereka fokus dalam tujuan-tujuan jangka panjang

Orang kaya tidak mencari uang untuk segera menghabiskannya. Mereka mengambil waktu untuk membuat perencanaan keuangan jangka panjang dan berusaha tertib mengikuti perencanaan tersebut.
7. Mereka tidak pernah merasa sok tahu

86% orang kaya suka membaca dan tekun mencari ilmu seumur hidup. 88% diantara mereka membaca materi pendidikan atau terkait pekerjaan selama paling tidak 30 menit setiap hari. 63% orang kaya mendengarkan audio book dalam perjalanan ke/dari tempat kerja.
8. Mereka menawarkan layanan atau menciptakan nilai tambah.

Mareka tidak cuma mengkonsumsi begitu saja hal-hal yang dihasilkan orang lain. Mereka selalu berusaha memberi nilai tambah.
9. Mereka berbuat lebih; bukan hanya muncul di kantor, mengerjakan kerjaan rutin, lalu pulang.

Mereka berusaha untuk berbuat lebih dari sekedar kewajiban pekerjaan, walau terkadang upah tak sebanding. 44% orang kaya bangun 3 jam sebelum memulai pekerjaannya.
10. Mereka lebih tertarik terhadap proses menghasilkan uang ketimbang uang yang mereka hasilkan.

Mereka bukannya gak peduli mencari uang, tetapi uang bukanlah prioritas utama mereka. Orang-orang sukses biasanya mencapai kepuasan tersendiri saat berhasil membuat klien atau pelanggan mereka senang.

Mereka juga tidak terlalu butuh gadget atau mainan-mainan canggih yang sering begitu diimpikan orang. Tidak heran pula bahwa mereka merupakan pribadi yang murah hati dan suka menolong. Bukan karena mereka kaya, tetapi kedermawanan justru merupakan kunci rahasia kesuksesan mereka.

Jangan lupa: 10 Tips Penting untuk Menjadi Milyuner
Akhirnya, karena tak seorang pun diantara kita yang bisa mengontrol pemerintah, teman atau kerabat yang berpikir negatif, bahkan ekonomi; maka kita hanya bisa mengontrol cara berpikir kita. 
Jika kita bisa mengadopsi cara berpikir orang-orang sukses, maka cepat atau lambat, kita pun bisa menjadi orang sukses finansial. Dengan cara berpikir yang tepat, kita tetap bisa MERASA sebagai orang sukses finansial meskipun kita sedang kekurangan uang.
Orang terkaya di dunia, Bill Gates mengatakan: “Jika Anda terlahir sebagai orang miskin, itu bukan salah Anda. Tetapi jika Anda meninggal dalam keadaan miskin, maka itu sepenuhnya kesalahanmu.”
Hambatan menuju sukses, bisa jadi hanya soal cara berpikir. Jika kita mau mengubahnya sedikit, kemungkinan pintu-pintu menuju kesuksesan akan terbuka lebih lebar. Selamat menikmati kesuksesan hidup. (Lifehack.org).

Saat Yg Terlewat…

​Saat yang terlewat
Gadisku 15th… belakangan kian sulit bangun di pagi hari.. seolah tak peduli bahwa usia balighnya mengharuskan tuntas sholat di waktu subuh.
Jika saya perhatikan… gadis manisku ini jarang sekali tersenyum kala bangun pagi… kalaupun bisa dibilang… itu hal langka adanya…
Jika saya membangunkannya dengan suara lembut lalu menyentuh tubuhnya … kadang saya elus2.. kadang saya pijat2 seperti memijat orang yg keletihan…
Reaksi yg diberikan kebanyakan adalah… ungkapan bahwa ia masih ngantuk, letih, atau malah diam sama sekali… tak memberi jawaban..
Jika saya sedang “crowded” urusan dapur.. lalu hanya memanggil dengan suara tanpa mampir ke kamarnya..
Jawabannya adalah… “hhhmmm”… “iyaaaa…” dan itu bisa berlangsung lama bahkan berkali2… 
Kondisi ini sesungguhnya pernah menjadi dilema saat sekolah menengah pertama… namun tidak separah dampaknya sekarang. sebab kini ia level menengah atas dan sekolah lumayan jauh jarak dr rumah lalu konsekuensi kedisiplinan kian ketatnya…
Saya mengkhawatirkan.. bagaimana gadisku kelak jika telah kuliah ?? Bagaimana kelak jika ia berumah tangga ?? Bagaimana kelak jika ia bekerja ??
Biasa… emak2 suka panjang kali pikirannya ttg berbagai hal yg terjadi di depan mata…
Sesekali saya tanya dengan baik2… mengapa mbak susah bangun pagi nak ?? 
Jawabannya.. standar… kan ngantuk.. kan capek … atau … hanya mengangkat bahu tanda ia juga tak mengerti… apa yg terjadi dgn dirinya sendiri… 
Suatu kali… suatu hari… dengan canda dan sedikit mimik lucu nya ia berkata… :
“Akbar.. habib… kalau dibangunin.. pakai gini… ”
“Ayoooo pejuang subuh… bangun yuk.. sholat ke mesjid.. kita kejar pahala sebesar langit dan bumi…” (sambil menirukan nada suara dan gaya saya atau ayahnya..)
Kita tertawa semua… lalu saya jawab…
“Oke… besok mbak …bunda bangunkan dgn begitu yaaa… ”
Ia berlalu sambil tertawa geli… “akhhh nggk akh…. ”
Itu sekilas…. dan saat kami coba esoknya seperti itu… ia bangun dan kegelian… namun masih susah juga..

Dan kami berfikir.. itu hanya canda… maka akhirnya kami membangunkannya seperti biasa…
Saya pernah mendengar nasehat dari abah ihsan.. banyak minta maaf dengan anak pertama, sebab ia sering jadi korban uji coba orang tua…
Saya fikir… saya sering melakukan itu. terutama jika saya sdh buntu mencari jalan keluar dan membantu anak untuk faham dan belajar menyelesaikan masalah. 
Namun… kadang kembali terjadi benturan ketika cara yg mau dilakukan belum tepat jua… 
minggu lalu saya ikut parenting ttg fitrah kebaikan oleh ustadz Harry Santosa… beliau mengatakan hal itu lagi.. seolah mengulang permasalahanku…
“Banyak2lah minta maaf pada anak, terutama anak pertama. Sebab ia sering.. jd korban ambisi orang tuanya.”
Lalu saya bertanya, sesudah minta maaf… apa yg harus saya lakukan ??
Jawabannya mencengangkan saya ..

“ulangi lagi proses penumbuhan fitrah kebaikan yg pernah ada padanya… yg sempat terkubur, terpendam bahkan mungkin rusak karena prilaku kita.”
Astaghfirullah… entah mengapa yg terekam dibenak saya ungkapan gadisku… yg dgn mimik lucu merasa cemburu dgn cara kami membangunkan dengan asyik dan indah pada adik2nya …
Ia ternyata rindu akan hal itu… rindu… karena jujur… saya tak punya ketrampilan itu dimasa lalu…
Tanpa terasa air mata saya tumpah… mengingat segala hal yg pernah saya lakukan padanya dahulu…
Ia tipe anak yg sangat teratur jam tidurnya… disiplin untuk hal yg disenanginya, selalu semangat pada hal2 baru… pembelajar sejati…
namun kenangan dominan yg saya ingat dahulu saat bangun pagi untuk sekolah ia memang agak susah.. sehingga sering saya menarik tubuhnya dengan paksa ke kamar mandi … bahkan menyiramnya langsung tanpa mengajaknya bercanda, bicara atau cerita…
Saya sadari itu sebab saat usia 2,5th… ia telah memiliki adik bayi lalu disanalah ia juga mulai masuk play grup untuk sekolah…
ketrampilan saya yg minim dalam hal membangunkannya telah merusak kebaikan akan kefahamannya untuk menggapai banyak manfaat bangun di pagi hari.
Padahal ketika telah berganti baju dan sarapan lalu berangkat sekolah… wajahnya selalu senang dan ceria.. 

Kebayang… berapa lama kerusakan itu saya buat ???
Saya istighfar.. esoknya saya ngomong dari hati ke hati padanya… menceritakan ttg ilmu yg baru saya dapat dan sadari… saya menyampaikan permohonan maaf setulus hati… ia mendengarnya dengan seksama “menetes air mata tak henti” seolah2 ia juga sedang mencari… jawaban buat dirinya sendiri…
Lalu saya bilang… “izinkan bunda memperbaikinya, bersama2 kita saling belajar… agar fitrah kebaikan yg Allah kasih pd kita tak hilang.”
itu baru satu hal… sepertinya jika saya evaluasi… banyak hal yg musti saya perbaiki ttg fitrah anak pertama kini harus mulai saya benahi…
Sebab saat dulu… memang jujur… terlalu banyak ambisi… menjadi orang tua… hingga tak sabar dalam melakukan penyemaian..

banyak terlalu yg bukan pada saatnya dan bukan pada tempatnya…
Wuuuaaahhh…..
Yaahhh… saya sempat dulu berfikir… 
Masak sih bangunin anak yg sdh baligh… badan besar sebesar gajah kayek emak bapaknya… harus seperti anak balita ??
🤔🤔
Ada gengsi… kelucuan… jg keanehan menyerumput di fikiran…
Namun ternyata… jika pada fase nya dulu tak dilakukan… itu menjadi “lost time” yg sesekali dicarinya disaat kini.
Mungkin tak setiap hari kita pakai gaya yg sama dgn adiknya… tapi… sesekali bolehlah… masih menganggap dia sama dgn adiknya… lalu kita lakukan itu… agar “kerinduannya pd masa lalu” yg tak terpenuhi oleh kita… bisa sesekali lepas terpuas… 
Jika itu menjadi spirit baru baginya, mengapa tak dilakukan ?? 
Lihatlah.. perubahan reaksi dan rona wajahnya… 
Kita tau.. dia butuh itu dari kita… 
Yg nyatanya waktu terlewat itu,  kini di bukakan Allah untuk kita perbaiki…
Wallahu alam

 😇😇😇

#FitrahBaseEducation

Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI

​_Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #3, sesi #7_

*REJEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI*

Alhamdulillah setelah  melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan”  dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

*_Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR_* ”

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani  hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati. 

Para Ibu di kelas Bunda Produktif  memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada.

 Sang Maha Memberi  Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”

*_Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya,  demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar_*

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah  

*_bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga_*

Semua pengalaman para Ibu Profesional di  Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah *KEMULIAAN* hidup.

“ *_Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI_* ”

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka 

*_Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang_*

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita.

 Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

*_Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya_*

Seorang ibu yang produktif itu agar bisa,

1⃣menambah syukur, 

2⃣menegakkan taat

 3⃣berbagi manfaat.

*_Rejeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendak-Nya_*

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rejeki adalah urusanNya.

Rejeki itu datangnya dari arah tak terduga,  untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya,

Ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “ Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

_Sumber bacaan_:

_Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014_

_Ahmad Ghozali, Cashflow Muslim, Jakarta, 2010_

_Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015_